Jumat, 04 Maret 2016

Kebenaran Mutlak, Objektif dan Subjektif

Definisi Kebenaran:
Pergumulan tentang kebenaran bukanlah hal yang baru di dalam bidang filsafat dan pengetahuan. Sejak zaman dahulu orang telah memikirkan tentang arti kebenaran dan sampai hari ini sulit untuk menemukan arti yang tepat dalam menjelaskan tentang konsep ini. Mengapa? Karena konsep ini sangat kompleks dengan berbagai variabel yang terkait di dalamnya[2]. Walaupun tidak ada pengertian yang tepat di dalam menggambarkan tentang kebenaran dari sudut pemikiran manusia, namun kita perlu menentukan batasan yang menjadi dasar pijakan untuk memikirkan tentang konsep kebenaran sesuai dengan situasi dan kondisi pada zaman ini.
Umumnya, konsep”kebenaran” ini dikaitkan dengan kesalahan, ketidakbenaran, kekeliruan, kepura-puraan / kemunafikan, ketidakjujuran / kebohongan, dan kepalsuan.
Menurut Oxford Learner’s Pocket Dictionary, truth atau kebenaran itu adalah :
The true facts about something, rather than things that have been invented or guessed; quality or state of being based on fact; fact that is generally accepted as true.
Kamus Oxford menterjemahkan kebenaran dengan beberapa pengertian: (1)” fakta atau keyakinan yang dapat diterima sebagai sesuatu yang benar ”; (2) kualitas atau keberadaan yang benar, (3) sesuatu yang benar; (3)[3]
Kebenaran adalah satu dari dua pilihan penilaian terhadap suatu hal yang diberikan seseorang setelah memalui serangkaian pertimbangan yang didasarkan pada suatu standar. Sehubungan dengan standar yang beragam dan berlalunya waktu, maka menurut kamus Oxford bahwa kebenaran itu tidak mutlak. Karena akan ada suatu standar baru yang kemudian memperbarui standar yang lama.
Kamus filsafat mendefinisikan kebenaran sebagai: Suatu karakteristik dari beberapa arti proporsional, yaitu sesuatu yang benar. Kebenaran (atau kesalahan) meliputi ”ide-ide” yang secara normal terbatas kepada hal-hal yang proporsional di dalam nature, yaitu konsep yang diungkapkan dengan kata-kata yang menunjuk suatu kondisi atau tidak lebih daripada kondisi yang benar atau salah. Kebenaran dapat diramalkan secara tidak langsung melalui kalimat atau simbol-simbol yang mengekspresikan arti-arti yang benar[4].
Idealnya, kedua definisi ini seharusnya mampu menjembatani perbedaan persepsi di dalam memahami tentang kebenaran. Namun faktanya tidak demikian, manusia memiliki pandangan yang berbeda, ketika memikirkan dan mengaplikasikan tentang kebenaran.

Kebenaran Mutlak 
Kebenaran mutlak artinya adalah kebenaran yang sudah tidak dapat disalahkan lagi. Kebenaran yang tidak dapat disalahkan adalah kebenaran yang menjumpai pembuktian yang mengatasi pernyataannya. Dengan demikian sebenarnya kebenaran mutlak adalah kebenaran yang dengan fakta yang tidak dapat disangkal lagi. Kebenaran diperlukan untuk membuktikan hal itu salah atau benar. kebenaran mutlak yang sejati itu harus datang dari luar manusia. Adapun manusia hanya bisa mempunyai kebenaran relatif. Tidak mungkin ada kebenaran mutlak di level manusia atau yang di bawahnya. Kebenaran mutlak harus datang dari level yang lebih tinggi, dari Tuhan. Jadi kebenaran mutlak adalah kebenaran yang datang dari Tuhan yang mahabesar.

Contoh :
Ø  Hubungan seorang saudara kembar, dimana seseorang bisa merasakan hal yang menimpa saudara kembarnya (kontak batin atau firasat). Itu semua tidak bisa kita jelaskan mengapa terjadi demikian karena kebenarannya mutlak milik Allah.
Ø  Orang yang selalu sholat, zakat, puasa dan mengamalkan kebaikan pada suatu hari dia melakukan perbuatan yang tercela. Kebenaran orang tersebut akan masuk surga atau neraka hanya Allah yang tahu.

Kebenaran Objektif

Orang yang faham ilmu logika tentu tahu bahwa sebenaran kebenaran absolut itu ada. Kebenaran absolut disebut juga kebenaran objektif. Kebenaran objektif adalah kebenaran apa adanya tanpa melibatkan persepsi pengamatnya. Kebenaran ini melibatkan persesuaian antara apa yang diketahui dengan fakta sebenarnya. Cara untuk mencari kebenaran objektif yaitu melaui adanya fakta, referensi, analisa dan melalui pengujian empiris walaupun secara logika. Wilayah logika :
a.       Bisa dirasakan oleh pancaindera
b.      Bersifat universal
c.       Berdasarkan hukum/rumus/postulat
Contoh:
Ø  Semua orang yang hidup suatu saat pasti akan meninggal
Ø  Apel yang jatuh dari pohon pasti arahnya ke bawah. Balon yang dilepaskan ke udara pasti arahnya naik ke atas.

Kebenaran Subjektif
Orang yang tidak faham ilmu logika sering mengatakan “Tidak ada kebenaran absolut, yang ada adalah kebenaran relatif”. Kebenaran subjektif adalah kebenaran yang melibatkan persepsi pengamatnya. Kebenaran subjektif, yaitu kebenaran yang ukurannya atau didapatkan dengan cara dari pendapat diri sendiri secara subjektif tanpa didukung fakta , referensi ,tanpa analisa dan tidak berdasarkan pengujian secara empiris-logis. Wilayah logika kebenaran relatif atau kebenaran subjektif berada pada wilayah:
a.       Keyakinan
b.      Selera
c.       Nilai
d.      Bahasa/definisi/artikata/terjemah/tafsir

Contoh:
Ø  Si A mengatakan makanan kalau tidak pedas itu kurang enak, tapi si B mengatakan makanan kalau tidak pedas itu enak-enak saja.
Ø  Si R berpendapat bahwa gadis yang berjilbab itu pasti cantik hatinya. Si S berpendapat belum tentu gadis yang berjilbab pasti cantik hatinya.
Ø  Di Jepang nyerobot antrian dianggap tak bermoral, dalam budaya Indonesia hal tersebut masih dianggap biasa.
Ø  Menurut si A mata pelajaran bahasa inggris paling mudah, sedangkan si B berpendapat mata pelajaran Matematika paling mudah.


Cara Mencari Kebenaran Secara Umum :

Penemuan Kebenaran Secara Kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan tidak lain adalah takdir Allah swt. Walaupun tidak ditemukan secara ilmiah, banyak penemuan ini yang telah menggoncangkan dunia ilmu pengetahuan.
Penemuan Kebenaran Melalui Trial and Error (Coba dan Ralat)
Bekerja secara coba dan ralat adalah melakukan suatu pekerjaan secara aktif dengan mengulang-ulang pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar-nukar cara dan materi. Pengulangan tersebut tanpa dituntun oleh suatu petunjuk yang jelas sampai seseorang menemukan sesuatu.
Penemuan Kebenaran Melalui Spekulasi
Penemuan kebenaran melalui spekulasi sedikit lebih tinggi tarafnya dari pada penemuan secara coba dan ralat. Dalam spekulasi seseorang dibimbing oleh suatu pertimbangan, walaupun kurang dipikirkan masak-masak tetapi dikerjakan dalam suasana yang penuh resiko. Penemuan dengan cara ini memerlukan pandangan yang tajam.
Penemuan Kebenaran Melalui Kewibawaan
Kebenaran ini berasal dari pendapat orang-orang yang dianggap berwibawa, yaitu kebenaran berdasarkan penghormatan pada pendapat orang yang dianggap berwibawa. Sering orang tidak lagi berusaha menggunakan kebenaran ini dan menerima pendapat tersebut sebagai kebenaran.
Penemuan Kebenaran Melalui Berpikir Kritis
Dengan kemampuannya berpikir, manusia dapat merangkum pengalaman dan fenomena dalam suatu rumusan untuk mencapai kebenaran. Kemampuan berpikir dan pengalaman tidak lain adalah berpikir logis. Berpikir logis bukanlah sepenuhnya merupakan cara-cara yang ilmiah karena logika dan pengalaman manusia yang digunakan untuk menemukan kebenaran tidak dalam konsep yang sama sehingga tanpa guna. Hasil yang memuaskan tergantung dari dua hal, yaitu kemampuan berpikir dan jenis pengalaman. Dan dari sinilah bermula metode penelitian karena manusia mencari jalan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan.
Penemuan Kebenaran Melalui Penelitian Ilmiah
Cara mencari kebenaran yang dipandang ilmiah adalah melalui metode penelitian. Metode penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf keilmuan.Penyaluran sampai setaraf ini disertai oleh gejala yang tampak dapat dicari penjelasannya secara ilmiah.


Daftar Pustaka

https://nonkshe.wordpress.com/2010/10/16/logika-dan-filsafat-standar-kebenaran-objektif-dan-subjektif/
 

 


1 komentar:

  1. Jadi apakah dalam kajian filsafat itu kebenaran bersifat mutlak?

    BalasHapus