Definisi Kebenaran:
Pergumulan tentang kebenaran bukanlah hal yang baru di dalam bidang
filsafat dan pengetahuan. Sejak zaman dahulu orang telah memikirkan
tentang arti kebenaran dan sampai hari ini sulit untuk menemukan arti
yang tepat dalam menjelaskan tentang konsep ini. Mengapa? Karena konsep
ini sangat kompleks dengan berbagai variabel yang terkait di dalamnya[2].
Walaupun tidak ada pengertian yang tepat di dalam menggambarkan tentang
kebenaran dari sudut pemikiran manusia, namun kita perlu menentukan
batasan yang menjadi dasar pijakan untuk memikirkan tentang konsep
kebenaran sesuai dengan situasi dan kondisi pada zaman ini.
Umumnya, konsep”kebenaran” ini dikaitkan dengan kesalahan, ketidakbenaran, kekeliruan, kepura-puraan / kemunafikan, ketidakjujuran / kebohongan, dan kepalsuan.
Umumnya, konsep”kebenaran” ini dikaitkan dengan kesalahan, ketidakbenaran, kekeliruan, kepura-puraan / kemunafikan, ketidakjujuran / kebohongan, dan kepalsuan.
Menurut Oxford Learner’s Pocket Dictionary, truth atau kebenaran itu adalah :
The true facts about something, rather than things that have been invented or guessed; quality or state of being based on fact; fact that is generally accepted as true.
Kamus Oxford menterjemahkan kebenaran dengan beberapa
pengertian: (1)” fakta atau keyakinan yang dapat diterima sebagai
sesuatu yang benar ”; (2) kualitas atau keberadaan yang benar, (3)
sesuatu yang benar; (3)[3]
Kebenaran adalah satu dari dua pilihan penilaian terhadap suatu hal
yang diberikan seseorang setelah memalui serangkaian pertimbangan yang
didasarkan pada suatu standar. Sehubungan dengan standar yang beragam
dan berlalunya waktu, maka menurut kamus Oxford bahwa kebenaran itu
tidak mutlak. Karena akan ada suatu standar baru yang kemudian
memperbarui standar yang lama.
Kamus filsafat mendefinisikan kebenaran sebagai: Suatu karakteristik
dari beberapa arti proporsional, yaitu sesuatu yang benar. Kebenaran
(atau kesalahan) meliputi ”ide-ide” yang secara normal terbatas kepada
hal-hal yang proporsional di dalam nature, yaitu konsep yang
diungkapkan dengan kata-kata yang menunjuk suatu kondisi atau tidak
lebih daripada kondisi yang benar atau salah. Kebenaran dapat diramalkan
secara tidak langsung melalui kalimat atau simbol-simbol yang
mengekspresikan arti-arti yang benar[4].
Idealnya, kedua definisi ini seharusnya mampu menjembatani perbedaan
persepsi di dalam memahami tentang kebenaran. Namun faktanya tidak
demikian, manusia memiliki pandangan yang berbeda, ketika memikirkan dan
mengaplikasikan tentang kebenaran.
Kebenaran
mutlak artinya adalah kebenaran yang sudah tidak dapat disalahkan lagi.
Kebenaran yang tidak dapat disalahkan adalah kebenaran yang menjumpai
pembuktian yang mengatasi pernyataannya. Dengan demikian sebenarnya kebenaran
mutlak adalah kebenaran yang dengan fakta yang tidak dapat disangkal lagi.
Kebenaran diperlukan untuk membuktikan hal itu salah atau benar. kebenaran
mutlak yang sejati itu harus datang dari luar manusia. Adapun manusia hanya
bisa mempunyai kebenaran relatif. Tidak mungkin ada kebenaran mutlak di level
manusia atau yang di bawahnya. Kebenaran mutlak harus datang dari level yang
lebih tinggi, dari Tuhan. Jadi kebenaran mutlak adalah kebenaran yang datang
dari Tuhan yang mahabesar.
Contoh :
Ø Hubungan
seorang saudara kembar, dimana seseorang bisa merasakan hal yang menimpa
saudara kembarnya (kontak batin atau firasat). Itu semua tidak bisa kita
jelaskan mengapa terjadi demikian karena kebenarannya mutlak milik Allah.
Ø Orang yang
selalu sholat, zakat, puasa dan mengamalkan kebaikan pada suatu hari dia
melakukan perbuatan yang tercela. Kebenaran orang tersebut akan masuk surga
atau neraka hanya Allah yang tahu.
Kebenaran Objektif
Orang
yang faham ilmu logika tentu tahu bahwa sebenaran kebenaran absolut itu ada.
Kebenaran absolut disebut juga kebenaran objektif. Kebenaran
objektif adalah kebenaran apa adanya tanpa melibatkan persepsi pengamatnya.
Kebenaran
ini melibatkan persesuaian antara apa yang diketahui dengan fakta sebenarnya.
Cara untuk mencari kebenaran objektif yaitu melaui adanya fakta, referensi,
analisa dan melalui pengujian empiris walaupun secara logika. Wilayah logika :
a. Bisa
dirasakan oleh pancaindera
b. Bersifat
universal
c. Berdasarkan
hukum/rumus/postulat
Contoh:
Ø Semua
orang yang hidup suatu saat pasti akan meninggal
Ø Apel
yang jatuh dari pohon pasti arahnya ke bawah. Balon yang dilepaskan ke udara
pasti arahnya naik ke atas.
Kebenaran Subjektif
Orang
yang tidak faham ilmu logika sering mengatakan “Tidak ada kebenaran absolut,
yang ada adalah kebenaran relatif”. Kebenaran subjektif adalah kebenaran
yang melibatkan persepsi pengamatnya. Kebenaran subjektif,
yaitu kebenaran yang ukurannya atau didapatkan dengan cara dari pendapat diri
sendiri secara subjektif tanpa didukung fakta , referensi
,tanpa analisa dan tidak berdasarkan pengujian secara empiris-logis. Wilayah logika kebenaran
relatif atau kebenaran subjektif berada pada wilayah:
a. Keyakinan
b. Selera
c. Nilai
d. Bahasa/definisi/artikata/terjemah/tafsir
Contoh:
Ø Si
A mengatakan makanan kalau tidak pedas itu kurang enak, tapi si B mengatakan
makanan kalau tidak pedas itu enak-enak saja.
Ø Si
R berpendapat bahwa gadis yang berjilbab itu pasti cantik hatinya. Si S berpendapat
belum tentu gadis yang berjilbab pasti cantik hatinya.
Ø Di Jepang
nyerobot antrian dianggap tak bermoral, dalam budaya Indonesia hal tersebut
masih dianggap biasa.
Ø Menurut
si A mata pelajaran bahasa inggris paling mudah, sedangkan si B berpendapat
mata pelajaran Matematika paling mudah.
Cara Mencari Kebenaran Secara Umum :
Penemuan
Kebenaran Secara Kebetulan
Penemuan
kebenaran secara kebetulan tidak lain adalah takdir Allah swt. Walaupun tidak
ditemukan secara ilmiah, banyak penemuan ini yang telah menggoncangkan dunia
ilmu pengetahuan.
Penemuan
Kebenaran Melalui Trial and Error (Coba dan Ralat)
Bekerja
secara coba dan ralat adalah melakukan suatu pekerjaan secara aktif dengan
mengulang-ulang pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar-nukar cara dan
materi. Pengulangan tersebut tanpa dituntun oleh suatu petunjuk yang jelas
sampai seseorang menemukan sesuatu.
Penemuan
Kebenaran Melalui Spekulasi
Penemuan
kebenaran melalui spekulasi sedikit lebih tinggi tarafnya dari pada penemuan
secara coba dan ralat. Dalam spekulasi seseorang dibimbing oleh suatu
pertimbangan, walaupun kurang dipikirkan masak-masak tetapi dikerjakan dalam
suasana yang penuh resiko. Penemuan dengan cara ini memerlukan pandangan yang
tajam.
Penemuan
Kebenaran Melalui Kewibawaan
Kebenaran
ini berasal dari pendapat orang-orang yang dianggap berwibawa, yaitu kebenaran
berdasarkan penghormatan pada pendapat orang yang dianggap berwibawa. Sering
orang tidak lagi berusaha menggunakan kebenaran ini dan menerima pendapat
tersebut sebagai kebenaran.
Penemuan
Kebenaran Melalui Berpikir Kritis
Dengan
kemampuannya berpikir, manusia dapat merangkum pengalaman dan fenomena dalam
suatu rumusan untuk mencapai kebenaran. Kemampuan berpikir dan pengalaman tidak
lain adalah berpikir logis. Berpikir logis bukanlah sepenuhnya merupakan
cara-cara yang ilmiah karena logika dan pengalaman manusia yang digunakan untuk
menemukan kebenaran tidak dalam konsep yang sama sehingga tanpa guna. Hasil
yang memuaskan tergantung dari dua hal, yaitu kemampuan berpikir dan jenis
pengalaman. Dan dari sinilah bermula metode penelitian karena manusia mencari
jalan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan.
Penemuan
Kebenaran Melalui Penelitian Ilmiah
Cara mencari
kebenaran yang dipandang ilmiah adalah melalui metode penelitian. Metode
penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf
keilmuan.Penyaluran sampai setaraf ini disertai oleh gejala yang tampak dapat
dicari penjelasannya secara ilmiah.
Daftar Pustaka
Martiana, Wina. 2010. “Kebenaran dan Kebahagiaan”
(online), (http://winamartiana.blogspot.co.id/2011/01/kebenaran-dan-kebahagiaan-dengan.html,
diakses tanggal 3 Maret 2016)
Jadi apakah dalam kajian filsafat itu kebenaran bersifat mutlak?
BalasHapus